Info Gunung Slamet untuk Pendaki (3.432 mdpl)

Posted on

Terbang menjauh dari pembahasan sebelumnya dan sekarang mendekat pada pembahasan lainnya yang tak kalah penting yakni tentang Info Gunung Slamet untuk Pendaki (Jawa Tengah – 3.432 mdpl) yang sudah siap menunggu kedatangan anda. Pembahasan yang sudah kami siapkan khusus untuk anda, informasi yang datang dari berbagai macam sumber dan situs terpercaya yang menyajikan informasi Gunung Slamet secara kongkrit. Baiklah apa saja menu hari ini tentang Informasi Gunung Slamet untuk Pendaki? Kami memiliki :

  1. Keterangan Gunung Slamet
  2. Objek Wisata/Spot Terbaik Gunung Slamet
  3. Akses Transportasi/Area Parkir Sekitar Gunung Slamet
  4. Perizinan/Administrasi Gunung Slamet
  5. Jalur Pendakian Gunung Slamet
  6. Mitos Sekitar Gunung Slamet

Nah tanpa perlu berhenti silahkan lanjutkan penerbangan anda menuju awal pembahasan Info Gunung Slamet untuk Pendaki Jawa Tengah (3.432 mdpl) di bawah ini.

Keterangan Gunung Slamet

Gunung Slamet dalah sebuah gunung berapi kerucut yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung Slamet terletak di antara 5 kabupaten, yaitu Kabupaten Brebes, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Menempati titik koordinat 7°14′30″LS,109°12′30″BT Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru. Kawah IV merupakan kawah terakhir yang masih aktif sampai sekarang, dan terakhir aktif hingga pada level siaga medio-2009.

Info Gunung Slamet untuk Pendaki (Jawa Tengah - 3.432 mdpl)
Gunung Slamet Jawa Tengah (3.432 mdpl)

Gunung Slamet cukup populer sebagai sasaran pendakian meskipun medannya dikenal sulit. Di kaki gunung ini terletak kawasan wisata Batu Raden yang menjadi andalan Kabupaten Banyumas karena hanya berjarak sekitar 15 km dari Purwokerto.

Sebagaimana gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Slamet terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia pada Lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa. Retakan pada lempeng membuka jalur lava ke permukaan. Catatan letusan diketahui sejak abad ke-19. Gunung ini aktif dan sering mengalami erupsi skala kecil. Aktivitas terakhir adalah pada bulan Mei 2009 dan sampai Juni masih terus mengeluarkan lava pijar. Sebelumnya ia tercatat meletus pada tahun 1999.

Maret 2014 Gunung Slamet menunjukkan aktifitas dan statusnya menjadi Waspada. Berdasarkan data PVMBG, aktivitas vukanik Gunung Slamet masih fluktuatif. Setelah sempat terjadi gempa letusan hingga 171 kali pada Jumat 14 Maret 2014 dari pukul 00.00-12.00 WIB, pada durasi waktu yang sama, tercatat sebanyak 57 kali gempa letusan. Tercatat pula 51 kali embusan. Pemantauan visual, embusan asap putih tebal masih keluar dari kawah gunung ke arah timur hingga setinggi 1 km.

Gunung ini mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montana, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Objek Wisata/Spot Terbaik Gunung Slamet

  1. Batu Raden
  2. Taman Botani
  3. Curug Gede
  4. Pancuran Pitu
  5. Pancuran Telu
  6. Wana Wisata
  7. Telaga Sunyi
  8. Taman Kaloka Widya Mandala
  9. Telaga Ranjeng Dengan Ikan Lelenya
  10. Agro Wisata (perkebunan teh) Kaligua
  11. Gardu Pandang Puncak Sakub
  12. Taman Wlingi
  13. Taman Suket
  14. Taman Krinyu
  15. Taman Dringo
  16. Sumur Penganten
  17. Gua Jepang
  18. Tugu Pertamina
  19. Igir Malang
  20. Kawah Mati
  21. Puncak Slamet
  22. Pemandian Air Panas Guci

Akses Transportasi/Area Parkir Sekitar Gunung Slamet

Akses Transportasi Menuju Gunung Slamet

Mengenai akses transportasi, salah satu sahabat kami ads-17.blogspot.co.id memiliki penjelasan cukup menarik di bawah ini.

Darimanapun tempat nya di jakarta kita harus menuju ke terminal tedekat, entah pulogadung, kp. Rambutan tanjung priok dan terminal bayangan di beberapa tempat di jakarta.

Jika sudah di terminal kita lanjutkan mencari bis AKAP (antar kota antar provinsi) yang menuju ke Tegal. Saran saya cari yang langsung ke jurusan slawi atau puwokerto via jalur pantura (jangan via jalur selatan/Bandung)

Ada beberapa PO bis yang menuju/jurusan ke Tegal antara lain. Dewi Sri, Lorena, Dedy Jaya, Sinar Jaya Dll. Tapi rekomendasi saya adalah Sinar Jaya karna ketertiban supir+keneknya dan relatif terjangkau bro.  Untuk harga tiket bis rata-rata Rp. 45000 (Ekonomi)  & Rp. 50.000 (Bisnis/AC) prediksi di hari biasa yah bro bukan libur lebaran atau musim liburan.

Untuk kereta juga ada beberapa kereta yang menuju ke Tegal dengan harga tiket bervariasi antara lain Cirebon Ekspress, Tegal Arum dll harga tiketnya antara Rp. 50.000 untuk ekonomi ac hingga Rp. 300.000 untuk eksekutif. Untuk info lengkap menggunakan kereta ke Tegal baca info nya disini.

Setelah mendapatkan bis yang nyaman, kita akan menepuh perjalanan sekitar 6-7 jam dari Jakarta menuju kota Tegal. Ada beberapa pilihan untuk kita turun di kota Tegal.

  1. Turun di terminal kota Tegal dan melanjutkan ke pertigaan Tuel menggunakan bis ¾ atau biasa disebut bis tuyul di daerah sekitar. Bis ini menuju Tegal-Bumiayu (sekitar Rp. 10.000/org) tapi kita harus turun di pertigaan Tuel dan melanjutkan ke Pos pendakian Guci menggunakan mobil sayur/losbak/mobil bak (sekitar Rp. 8000/org)
  2. Turun di terminal Slawi dan melanjutkan dengan bis ¾ sama seperti turun di terminal Tegal. (Rp. 8000/org) dan melanjutkan mobil sayur/los bak
  3. Turun di pertigaan bojong, dan lagi lagi sama melanjutkan menggunakan bis ¾ (Rp. 5000) dan menggunakan mobil losbak atau bak terbuka. Sebenarnya mobil bak terbuka ini memang sudah menjadi angkutan umum di daerah sekitar bro jadi kita gak perlu bingung mencarinya karna pasti para supir yang akan mencari/ manawari kita hehe.

Setelah kita sampai pada Taman Wisata Guci, kita menuju ke pos Pendakian, untuk pos nya sendiri terakhir saya ke sana itu belum ada bangunan layaknya pos penjaga bro… tapi untuk sekarang saya sendiri belum tahu apakah sudah ada atau belum. Mungkin untuk memudahkan kita itu yang saya ingat adalah jalan ke kiri sebelum masuk ke terminal angkutan Guci

Area Parkir Gunung Slamet

Terdapat di area basecamp Bambangan dengan tarif Rp.5.000-10.000/motor

Fasilitas Di Gunung Slamet

Termasuk lengkap, di sekitar Bambangan terdapat banyak penginapan dll.

Perizinan/Administrasi Gunung Slamet

Jika ingin mendaki Gunung Slamet terlebih dahulu kita meminta ijin di Perum PERHUTANI Banyumas Timur, Jl. Gatot Subroto 92, Purwokerto (Telp. 0281-96108) dan Polisi setempat (Polsek Serang). Kita juga harus mendapat Rekomendasi dari Dinas Sosial Politik (Ditsospol) Kabupaten Banyumas. Dan di Bambangan kita harus laporkan pendakian kita ke Kepala Dusun, Pak Mucheri, yang juga seorang pemandu gunung yang tangguh.

Jalur Pendakian Gunung Slamet

Jalur Pendakian Gunung Slamet
Jalur Pendakian Gunung Slamet

Jalur Pendakian Gunung Slamet Via Guci

Pintu gerbang Obyek wisata Guci yang berada pada ketinggian 1120 mdpl. Pintu gerbang Obyek wisata Guci   yang berupa gapura ini , adalah juga merupakan pintu gerbang ke air terjun. Letak air terjun ini ada di sebelah sebuah jembatan  dan perjalanan kami menuju Gerbang Pendakian Guci 1277 mdpl . Berikut Rute Pendakian Kami.

Gerbang Pendakian Guci 1277 mdpl – Pos Pinus ( Pos I ) 1185 mdpl. Dari gerbang jalur pendakian relatif landai, melewati pinggir hutan pinus, dan setelah mengikuti jalan setapak kemudian akan bertemu dengan jalan berbatu bekas jalan aspal yang sudah rusak milik perkebunan pinus. Pos I berada sedikit masuk ke dalam hutan Pinus. Waktu tempuh dari Gerbang hingga ke Pos I ini kurang lebih 1 jam.

Pos I – Pos Pondok Cemara (Pos II)  1951 mdpl. Setelah melewati Pos I keadaan jalan setapak mulai menanjak dan mulai banyak terdapat pohon yang berlumut. Sedangkan waktu yang kami tempuhnya 1 jam 55 menit.

Pos II – Pos Pondok Pasang ( Pos III ) 2129 mdpl. Kondisi jalan setapaknya relatif landai dan waktu yang kami tempuh dari Pos II ke Pos III kurang lebih 50 menit.

Pos III – Pos Pondok Kemaktus ( Pos IV ) 2578 mdpl. Jalur dari pos III menuju Pos IV ini lebih berat dari pada jalur lainnya ( dari pos I hingga Pos V ). Dijalur ini, banyak pohon perdu setinggi manusia ( arbei ). Jika memulai pendakian dipagi hari, maka istirahat makan siang dapat dilakukan disini. Dan juga di daerah Pos IV ini ramai dihiasi oleh suara burung. Waktu tempuh dari Pos III ke Pos IV adalah kurang lebih sekitar 2 jam 10 Menit.

Pos IV – Pos Pondok Cantigi ( Pos V ) 2852 mdpl. Jalur pendakian mulai banyak ditemui pohon tumbang dan sebelum mencapai Pos V, akan ada sebuah pos yang dikenal dengan sebutan Pos Edelweiss yang berada pada ketinggian 2570 mdpl, dan waktu tempuh hingga Pondok Edelweis ini adalah kurang lebih sekitar 1 jam 26 menit. Selepas dari pondok edelweis keadaan jalan setapak mulai banyak debu vukanisnya. Dari Pondok edelweis hingga ke Pos V akan memakan waktu kurang lebih 50 menit.

Pondok Cantigi (Pos V) – Bibir kawah sebelah barat laut (Puncak Guci) 3205 mdpl. Plawangan guci hari itu diselimuti kabut tebal dan terlihat menyeramkan,angin mendesau dari bawah kami,membuat kami kedinginan. Cuaca saat itu sangat tidak bisa diprediksi,terkadang angin tenang,tetapi tiba-tiba menjadi ganas.. kami sudah down melihat kondisi alam yang seperti itu,tetapi kami memiliki tekad yang kuat,bahwa kami akan sampai puncak gunung ini. Meski badai menghempas kami.

Mendekati bibir kawah, haruslah berhati – hati karena jalannya melewati tanah berpasir halus dan berasap belerang. Terkadang tanah tersebut terasa hangat. Resiko keracunan belerang bisa saja terjadi. Jadi ada baiknya menyiapkan masker, dan berjalan cepat dan tegak, untuk mengurangi resiko. Karena belerang lebih berat dari udara dan berada di dekat tanah.

Puncak Guci Dalam Kondisi Badai. Waktu tempuh dari Pos V hingga bibir kawah ini sekitar 2 jam.

Jalur Pendakian Gunung Slamet Via Kali Wadas

Kaliwadas merupakan sebuah dusun yang berketinggian 1850 mdpi dan masuk wilayah Desa Dawehan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, atau tepatnya berada pada barat daya lereng Gunung Slamet. Untuk menuju Kaliwadas dapat ditempuh dari kota Bumiayu menuju Pangasinan dengan menggunakan Angkutan Pedesaan jenis Colt yang memakan waktu 2 jam. Setiba di Pasar Pangasinan, perjalanan dilanjutkan menuju Kaliwadas dengan menggunakan Jeep Hardtop atau menggunakan angkutan umum jenis kendaraan terbuka yang beroperasi hingga pukul 18.00 wib. Pendaki dapat menyiapkan segala perbekalan dan perizinan dari Kaliwadas ini. Kira – kira 300 m selepas jalan desa, pendaki diarahkan menuju jalan setapak.

Satu jam kemudian pendaki akan melewati Tuk Suci yang oleh penduduk setempat diartikan sebagai mata air suci. Di Tuk Suci ini terdapat aliran air yang dibendung, yang berfungsi sebagai pengairan desa di bawahnya. Selepas Tuk Suci, medan mulai menanjak menembus lorong-lorong tumbuhan Bambu yang berukuran kecil. Penduduk sekitar menyebutnya Pringgodani. Enam puluh menit kemudian pendaki akan tiba di pondok Growong. Pondok Growong merupakan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Di sekitar area ini banyak ditemukan pohon besar yang di bawahnya terdapat lubang berukuran cukup besar.

Selepas pondok Growong lintasan relatif datar sampai pada sebuah jembatan kecil yang bemama taman Wlingi, yang berada di ketinggian 1953 mdpl. Di daerah ini terdapat persimpangan, lintasan yang lurus dan lebar menuju ke Sumur Penganten. Berjarak 500 m dari area terdapat sumber air, yang juga merupakan sebuah tempat keramat di mana banyak peziarah yang datang untuk meminta berkah. Jalur ke kiri merupakan lintasan yang menuju ke puncak. Keadaan lintasan semakin menanjak. Di sepanjang lintasan mulai banyak dijumpai pohon tumbang dan pohon penyengat. Lintasan kadang tertutup oleh semak belukar sehingga pendaki harus waspada agar tidak tersesat. Lintasan mulai kembali melebar ketika pendaki melewati persimpangan Igir Manis yang berada di ketinggian 2600 mdpl.

Di sekitar area ini akan didapati tetumbuhan Adelweiss dan tetumbuhan Arbei. Setelah itu pendaki akan sampai di Igir Tjowek yang berada di ketinggian 2750 mdpl. Daerah ini masuk kawasan Gunung Malang. Di sini terjadi pertemuan jalaur ini dengan jalur Baturaden. Beberapa meter kemudian barulah pendaki tiba di Plawangan. Plawangan merupakan sebuah tanah yang cukup datar di daerah terbuka, sekaligus merupakan batas vegetasi. Untuk menuju puncak dibutuhkan waktu kira-kira 2 jam. Pendaki dapat berangkat pagi agar dapat menikmati keadaan puncak dan sekitamya dalam keadaan cuaca cerah. Selepas Plawangan lintasan semakin tajam hingga mencapai sudut pendakian 60.

Selanjutnya keadaan lintasan semakfn parah dengan medan bebatuan vulkanik yang mudah longsor. Bau belerang terasa menyengat dari kawah ketika pendaki tiba di puncak bayangan. Setiba di daerah ini, pendaki tinggal melipir pada gigir kawah menuju arah timur. Setelah melewati Tugu Surono yang berupa tumpukan batu, pendaki akan sampai di puncak tertinggi  Gunung Slamet yang ditandai dengan patok triangulasi dan tower. Dulu tempat ini juga digunakan sebagai pemantauan aktivitas gunung api ini. Di puncak tertinggi kedua se-Jawa ini pendaki dapat menyaksikan pemandangan pada arah timur. Tampak beberapa puncak seperti Gunung Sumbing, Sundoro, Merbabu, Merapi, dan puncak Ciremai di arah barat. Semuanya berdiri kokoh sekan-akan menjadi pasak bumi Pulau Jawa.

Jalur Pendakian Gunung Slamet Via Batu Raden

Start ke Pos 1 – Kordinat Titik Start adalah 109o13’04’’E, 07o18’05’’S. Titik Start berupa tempat yang datar dan lapang  yang biasa untuk berkemah di kanan jalan menuju arah Pancuran Pitu yang dilanjutkan dengan jalan setapak memasuki hutan damar. Medan dari Titik Start  menuju Pos 1 berupa jalan setapak tanah yang landai. Hutan berupa hutan homogen pohon damar yang dikelola oleh KPH Banyumas. Banyak terdapat tempat datar untuk mendirikan tenda di sepanjang perjalanan menuju Pos 1. Tepat sebelum  Pos 1 kita akan melewati sungai kecil dan dilanjutkan tanjakan terjal dengan batuan yang licin. Setelah tanjakan tersebut kita sampai di Pos 1. Pos 1 berupa tempat datar dengan pohon–pohon besar yang membuat suasananya menjadi teduh. Tidak begitu luas, kira–kira hanya cukup untuk 2 tenda dengan ukuran 4 orang.  Sumber air di Pos 1 ini adalah sungai musiman yang kita temui sebelum Pos 1 tadi, tetapi ketika kemarau panjang sungai tersebut kemungkinan kering. Perjalanan dari Titik Start hingga Pos 1 memakan waktu kira–kira 1 jam.

Pos 1 ke Pos 2 – Perjalanan menuju Pos 2 diawali dengan tanjakan yang masih berupa jalan setapak tanah. Secara umum medan masih cukup landai dan bersahabat namun sesekali kita akan menemui tanjakan–tajakan ringan di sepanjang perjalanan. Setelah Pos 1 vegetasi mulai berubah menjadi hutan heterogen bersemak. Akar-akar pohon yang banyak terdapat di sepanjang jalan membentuk tangga alami memudahkan kita untuk melewati tanjakan–tanjakan namun kadang menyulitkan karena sering juga membuat kaki tersangkut. Di jalur ini mulai banyak ditemui pohon–pohon tumbang yang menghalangi jalan. Setelah sekitar 2,5 jam  perjalanan sampailah kita di Pos 2. Pos 2 terletak di koordinat 109o12’29’’E, 07o17’18’’S. Pos 2 ini berupa tempat datar yang lapang. Pos 2 ini kira–kira memuat  3-4 tenda  ukuran 4 orang ditandai dengan pohon tumbang yang menghalangi jalan masuknya. Di Pos 2 terdapat sumber air berupa sungai yang cukup bisa diandalkan walaupun sedang musim kemarau. Untuk menuju sungai tersebut, kita mengambil jalan turunan pada percabangan tepat setelah Pos 2. Di situ terdapat sungai yang lumayan besar. Pada musim kemarau sungai tersebut hanya berupa genangan air kotor sehingga harus disaring dan dimasak dahulu sebelum dikonsumsi.

Pos 2 ke Pos 3 – Pos 2, Terlihat Ada Pohon Tumbang di Jalan Masuknya dari Pos 2 menuju Pos 3 tidak terlalu jauh, kira–kira hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Medan berupa jalan tanah setapak yang menanjak dengan vegetasi masih berupa hutan heterogen bersemak. Pos 3 terletak di kordinat 109o12’23’’E, 07o16’50’’S ditandai dengan adanya tugu triangulasi yang menunjukkan  ketinggian 1664 mdpl. Pos 3 tidak terlalu luas, kira-kira hanya bisa untuk 2 tenda ukuran 4 orang.

Pos 3 ke Pos 4 – Pos 3, Terlihat Triangulasi Penunjuk Ketinggian. Setelah Pos 3 medan mulai konsisten menanjak terjal. Jalan yang dilalui masih berupa jalan setapak dengan vegetasi berupa hutan heterogen bersemak. Dalam perjalanan ke Pos 4 ini tangga–tangga akar pohon mulai terasa sangat berguna seiring dengan medan yang semakin menanjak. Di sepanjang perjalanan terdapat beberapa tempat datar yang di sebut pos bayangan yang cukup untuk 1 – 2 tenda dan  sangat berguna karena jarak Pos 3 ke Pos 4 lumayan lama yaitu sekitar 3 – 4 jam. Pos 4 sendiri terletak di kordinat 109o12’03’’E, 07o15’55’’S. Di Pos 4 ini mempunyai dua bagian terpisah oleh semak belukar, bagian depan hanya bisa untuk mendirikan 2 – 3 tenda, sedangkan bagian belakang di utara bagian depan bisa untuk mendirikan 3 – 4 tenda dengan suasana lebih teduh dan lembab.

Pos 4 ke Pos 5 (Plawangan) – Jalur menuju Pos 5 berupa jalan tanjakan menuju sebuah puncakan. Susana pendakian yang mulanya selalu teduh mulai terasa panas karena  pohon-pohon besar sudah mulai jarang dan berganti dengan cantigi. Vegetasi mulai didominasi oleh semak belukar sehingga sering kita harus bersusah payah melewati jalur berupa terowongan–terowongan semak belukar. Mendekati puncakan jalan semakin menanjak. Di puncakan inilah pertemuan jalur Baturaden dengan Kaliwadas. Dari sini arah pendakian yang mulanya ke utara berubah menjadi ke timur dan medan yang akan dilalui menjadi lebih datar bahkan menjadi turunan. Daerah di sepanjang jalan menuju Pos 5 ini merupakan daerah rawan kebakaran, bisa dilihat dari banyaknya bekas kebakaran yang kita temui. Setelah berjalan sekitar 3 jam dari Pos 4 kita akan sampai di Pos 5. Pos 5 berupa dataran bertingkat dengan beberapa pohon besar di sekitarnya. Keberadaan pohon–pohon ini melindungi Pos 5 dari terpaan angin secara langsung sehingga membuatnya menjadi tempat bermalam yang cukup aman. Terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan beberapa tenda di sini. Dari Pos 5 ini kita bisa melihat dengan jelas medan yang akan kita lewati menuju puncak Gunung Slamet. Pos 5 merupakan batas vegetasi. Letak kordinat Pos 5 adalah 1109o12’26’’E, 07o14’55’’S dan di sinilah para pendaki biasa meninggalkan barang bawaannya sebelum menuju puncak jika pulangnya akan kembali ke jalur Baturaden atau Jalur Kaliwadas.

Pos 5 (Plawangan) ke Puncak – Jalur dari Pos 5 menuju puncak berupa tanjakan batu yang terjal. Perjalanan menuju puncak sangatlah kering karena bisa dibilang dari Pos 5 menuju puncak sudah tidak ada lagi tanaman. Medan berupa batu–batuan lepas dengan jalur yang kurang jelas. Awalnya kita harus mengambil tepat di tengah punggungan kemudian setelah sampai di bibir kawah jalur akan melipir ke arah kanan menuju puncak Gunung Slamet dengan ketinggian 3432 mdpl. Para pendaki diharapkan tidak terlalu lama di puncak karena adanya bau belerang yang cukup menyengat dari gunung berapi yang masih aktif ini. Puncak Gunung Slamet ditandai dengan tugu tumpukan batu. Perjalanan dari Pos 5 menuju puncak bisa ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam.

Jalur Pendakian Gunung Slamet Via Kaligua

Pendakian yang kami lakukan pada tanggal 16 – 17 Agustus 2008  melalui jalur Kaligua, yang selama ini jarang/hampir tak pernah dilalui oleh pendaki-pendaki gunung pada umumnya, membuka pikiran kami betapa indahnya jalur yang kami lalui dan betapa besar potensi potensi wisata daerah Brebes khususnya bagian Selatan apabila Pemerintah Daerah Brebes bias mempromosikannya dengan menjadikan jalur wisata Kaligua menjadi jalur resmi akses pendakian ke Gunung Slamet untuk lereng barat.

Kurang dikenalnya jalur ini disebabkan banyak faktor yang menyertai, misalnya sarana dan prasarana transportasi yang kurang memadai/sulit untuk bisa sampai di lokasi wisata/basecamp pendakian, yang disebabkan karena kondisi jalan yang jelek sehingga promosi wisata yang sudah pernah dilakukanpun seolah-olah kurang menyedot pengunjung/wisatawan untuk datang.

Mitos Sekitar Gunung Slamet

Puncak Surono

Menurut cerita penduduk setempat, dahulu ada seorang pendaki gunung bernama Surono yang meninggal di puncak Gunung Slamet karena jatuh ke Jurang, sehingga untuk menghormatinya nama puncak Gunung Slamet bernama Puncak Surono. Di puncak ini terdapat tugu penghormatan untuk mengenang pendaki Surono.

Misteri Makhluk Kerdil di Gunung Slamet

Di Jalur Pendakian Guci terdapat misteri yang tidak kalah seram. Berdasarkan cerita legenda gununng Slamet, konon di jalur Guci ini terdapat makhluk kerdil yang dahulunya adalah manusia yang tersesat ketika sedang mendaki Gunung Slamet dan akhirnya tidak bisa kembali ke bawah. Makhluk kerdil tersebut awalnya mencoba bertahan hidup dengan memakan dedaunan seperti hewan, tetapi seiring waktu makhluk kerdil tersebut kehilangan jati diri manusia karena terlalu lama hidup seperti hewan. Makhluk kerdil tersebut suka bersembunyi karena takut jika bertemu pendaki.Meskipun makhluk kerdil takut kepada manusia, namun apabila pendaki mendirikan tenda di sekitar Plawangan dan meninggalkan makanan di depan tenda maka makhluk kerdil ini akan mengambil dan memakan tanpa pendaki sempat menyadarinya.Disekitar Plawangan terdapat tempat yang bisa mengeluarkan air bersih layak minum. Namun untuk mengeluarkan air tersebut, pendaki harus membakar kemenyan sambil membaca beberapa bacaan tertentu.Karena diyakini sebagai tempat makhluk gaib, banyak orang-orang yang kesulitan ekonomi, jauh dari agama, dan berpikir sempit datang sengaja untuk melakukan ritual pesugihan.

Air Terjun guci Gunung Slamet

Dibalik air terjun Guci konon terdapat kediaman siluman naga bernama Naga Cerek. Dalam ritual pesugihan konon permintaan Naga Cerek ini sangat berat karena meminta tumbal nyawa salah satu anggota keluarga peritual pesugihan.

Baturaden dan Pancuran Tujuh

Masyarakat sekitar mempercayai asal – usul Gunung Slamet yang ditemukan oleh seorang pangeran dari negeri Rum-Turki bernama Syeh Maulana Maghribi yang merupakan salah seorang penyebar agama Islam di Jawa. Konon saat fajar menyingsing, Syeh Maulana melihat cahaya misterius menjulang di angkasa yang membuatnya tergerak untuk menyelidiki. Pangeran ditemani oleh ratusan pengawal dan pengikut setianya, Haji Datuk. Mereka berlayar ke arah cahaya tersebut. Setelah sampai di Gresik, Jawa Timur, cahaya itu tiba-tiba muncul di sebelah barat, lalu mereka pun berlayar ke arah barat dan tiba di pantai Pemalang, Jawa Tengah. Di Pemalang, Syeh Maulana bersama Haji Datuk berjalan ke selatan sambil menyebarkan agama Islam. Saat cahaya melewati daerah Banjar, Syeh Maulana menderita gatal di seluruh tubuh dan sulit disembuhkan. Hingga ketika sholat malam, pangeran mendapat ilham untuk pergi ke Gunung Gora. Di Gunung Gora, pangeran menyuruh Haji Datuk meninggalkannya dan menunggu di suatu tempat yang mengeluarkan kepulan asap dan ternyata di daerah tersebut terdapat sumber air panas dengan tujuh buah pancuran.

Di lokasi inilah Syeh Maulana berobat dengn mandi secara teratur hingga akhirnya penyakit yang dideritanya sembuh. Akhirnya pangeran menamai tempat ini ‘Pancuran Tujuh’

Lalu Syeh Maulana memberi gelar Haji Datuk dengan sebutan Rasuludi yang dalam bahasa jawa berarti Batur Kang Adi (Abdi yang setia). Kemudian desa itu dikenal dengan nama ‘Baturadi’ yang lama-kelamaan menjadi ‘Baturaden’.

PENUTUP – Tak terasa perjalanan kita mengitari pembahasan informasi Gunung Slamet ini sudah mencapai akhir. Dan itu merupakan pertanda bahwa kami harus segera menutup pembahasan ini. Baiklah semoga informasi gunung Slamet diatas dapat membantu anda. Terimakasih atas kunjungan anda dan silahkan lanjutkan perjalanan anda menuju pembahasan kami berikutnya.

Pencarian:

gerbang jalur gunung slamet, Info Gunung Slamet untuk Pendaki (Jawa Tengah - 3 432 mdpl, jalur pendakian gunung slamet